BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT KEDUDUKAN
|
Pasal
1 |
Organisasi profesi ini bernama IKATAN AHLI PERENCANAAN
INDONESIA disingkat IAP yang merupakan wadah tunggal
berhimpunnya segenap ahli perencanaan wilayah dan kota
di Indonesia.
|
Pasal 2
|
IAP didirikan
pada tanggal 13 April 1971 untuk jangka waktu yang tidak
ditentukan. |
| |
Pasal 3
|
| 1. |
IAP berkedudukan di ibukota Negara
Republik Indonesia dan dapat membentuk cabang-cabang
dan sesuai kebutuhannya. |
| 2. |
Di Ibukota Negara Republik Indonesia dibentuk
Pengurus Nasional dan di tiap cabang dibentuk Pengurus
Daerah. |
|
BAB II
ASAS, TUJUAN DAN FUNGSI
|
Pasal
4 |
IAP berasaskan Pancasila. |
Pasal 5
|
IAP bertujuan untuk mengembangkan keahlian perencanaan
wilayah dan kota; serta untuk meningkatkan mutu, kesejahteraan,
persatuan dan kesatuan bagi segenap ahli perencanaan wilayah
dan kota di Indonesia dalam rangka penataan ruang wilayah/kota
dan pembangunan bangsa dan negara kesatuan RI. |
Pasal 6
|
IAP berfungsi sebagai wadah pembinaan, komunikasi, konsultasi
dan koordinasi antar ahli perencanaan wilayah dan kota
dan antara ahli perencanaan wilayah dan kota dengan tenaga
ahli/profesional lain, dengan lembaga/instansi masyarakat,
swasta, pemerintah dan intemasional; serta sebagai wadah
untuk melindungi kepentingan masyarakat seluas-luasnya.
|
Pasal 7
|
Untuk menjalankan fungsi tersebut di atas IAP bertugas
: |
| 1. |
Meningkatkan peran para perencana
wilayah dan kota dalam pembangunan wilayah dan kota
pada khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya; |
| 2. |
Meningkatkan kemampuan profesional dan kesejahteraan
para perencana wilayah dan kota; |
| 3. |
Mengembangkan bidang pengembangan wilayah dan
kota sebagai ilmu dan teknik terpakai; |
| 4. |
Membina hubungan dan kerjasama yang harmonis antara
para perencana wilayah dan kota dengan tenaga ahli/profesional
lainnya dan dengan lembaga/instansi masyarakat,
swasta, pemerintah dan internasional; |
| 5. |
Melaksanakan berbagai kegiatan lain dalam bentuk
pelayanan teknis, advokasi dan konsultasi serta
pelatihan dan pemanfaatan teknologi. |
|
BAB III
KEANGGOTAAN
|
Pasal 8
|
Anggota IAP terdiri atas : |
| 1. |
Anggota Muda |
| 2. |
Anggota Biasa. |
| 3. |
Anggota Kehormatan. |
| 4. |
Anggota Bersertifikat. |
|
Pasal 9
|
Anggota IAP adalah WNI dan WNA yang sudah memenuhi persyaratan.
|
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA
|
Pasal 10
|
| 1. |
Anggota muda berhak : |
| |
| a. |
Mengemukakan pendapat secara
lisan dan tertulis sesuai ketentuan yang berlaku; |
| b. |
Memperoleh pembinaan bagi peningkatan kapasitas
profesional dan kesejahteraannya; |
| c. |
Mengikuti semua kegiatan organisasi; |
| d. |
Memperoleh perlindungan dan pembelaan dalam
melaksanakan tugas profesionalnya sepanjang
tidak bertentangan atau melanggar ketentuan
dan peraturan/perundangan yang berlaku. |
|
| 2. |
Anggota biasa mempunyai hak memberikan suara dalam
pemungutan suara dan seluruh hak yang melekat pada
anggota muda |
| 3. |
Anggota kehormatan mempunyai hak yang melekat
pada anggota biasa dan hak untuk memperoleh laporan
secara berkala dan khusus dari Pengurus Nasional
IAP. |
| 4. |
Anggota bersertifikat mempunyai hak yang melekat
pada anggota biasa dan hak tambahan lain yakni : |
| |
| a. |
Memperoleh pengakuan IAP dalam
bentuk sertifikasi atas jenjang kemampuan
profesionalnya; |
| b. |
Mencantumkan sebutan “IAP” dibelakang
nama yang bersangkutan; |
| c. |
Melakukan penilaian keprofesionalan bagi
kegiatan dan karya di bidang perencanaan wilayah
dan kota. |
|
|
Pasal 11
|
| 1. |
Setiap anggota IAP berkewajiban : |
| |
| a. |
Memelihara nama baik dan kehormatan
IAP; |
| b. |
Mentaati dan menegakkan kode etik IAP; |
| c. |
Mentaati dan melaksanakan segala kebijaksanaan,
peraturan dan ketentuan IAP; |
| d. |
Mengusahakan, memelihara dan mengembangkan
hubungan kerjasama dengan sesama anggota dan
pihak lain dalam pelaksanaan tujuan, fungsi
dan tugas IAP; |
| e. |
Membayar iuran anggota secara berkala dan
tepat waktu, kecuali bagi anggota kehormatan. |
|
| 2. |
Anggota kehormatan selain melaksanakan kewajiban
tersebut pada ayat 1 di atas, juga berkewajiban
untuk menjaga keutuhan dan persatuan organisasi,
mengarahkan perkembangan organisasi serta membantu
memecahkan permasalahan organisasi IAP. |
| 3. |
Anggota bersertifikat selain melaksanakan kewajiban
tersebut pada ayat 1 tersebut di atas, juga berkewajiban
: |
| |
| a. |
Mengikuti prosedur dan tata
laksana sertifikasi anggota; |
| b. |
Meningkatkan keahlian profesional secara
berkala dan mengikuti evaluasi peningkatan
keahlian tersebut yang dilaksanakan oleh IAP; |
| c. |
Membayar biaya sertifikasi anggota. |
|
|
BAB V
ORGANISASI
|
Pasal 12
|
Unsur-unsur organisasi IAP terdiri atas : |
| 1. |
Pengurus yang terdiri atas Pengurus
Nasional dan Pengurus Daerah; |
| 2. |
Dewan Kehormatan; |
| 3. |
Majelis Kode Etik; |
| 4. |
Badan Sertifikasi Perencana. |
|
Pasal 13
|
| 1. |
Untuk melaksanakan kegiatan yang bersifat
tetap, Pengurus Nasional dapat membentuk lembaga-lembaga
khusus yang bertanggungjawab langsung kepada Ketua
Umum. |
| 2. |
Susunan Pengurus Daerah IAP dapat dilengkapi dengan
: |
| |
| a. |
Pelindung, Penasehat dan Pembina
Daerah yang bersifat ex officio; |
| b. |
Anggota Kehormatan bagi mantan Ketua Pengurus
Daerah. |
|
| 3. |
Apabila diperlukan dapat dibentuk Pengurus Komisariat
yang hanya bersifat koordinatif dan merupakan bagian
dari Pengurus Daerah. |
|
BAB VI
KONGRES DAN RAPAT
|
Pasal 14
|
| 1. |
Kongres terdiri atas : |
| |
| a. |
Kongres Nasional; |
| b. |
Kongres Wilayah. |
|
| 2. |
Rapat terdiri atas : |
| |
| a. |
Rapat Pleno Pengurus; |
| b. |
Rapat Pengurus Nasional; |
| c. |
Rapat Pengurus Daerah. |
|
| 3. |
Dalam kondisi yang bersifat luar biasa dan tidak
dapat diselesaikan oleh unsur-unsur organisasi IAP,
dapat diselenggarakan Kongres Istimewa. |
|
Pasal 15
|
| 1. |
Kongres Nasional adalah pemegang
kekuasaan tertinggi organisasi. |
| 2. |
Kongres Nasional diadakan satu kali dalam tiga
tahun. |
| 3. |
Keputusan dalam Kongres Nasional ditetapkan secara
musyawarah untuk mencapai mufakat dan apabila tidak
tercapai mufakat maka diadakan pemungutan suara. |
|
Pasal 16
|
Kongres Nasional mempunyai tugas dan wewenang untuk : |
| 1. |
Menetapkan Rencana Strategis organisasi
IAP; |
| 2. |
Menilai, mensahkan atau menolak laporan pertanggungjawaban
dan keuangan Pengurus Nasional IAP; |
| 3. |
Mensahkan laporan kegiatan Dewan Kehormatan,
Majelis Kode Etik dan Badan Sertifikasi Perencanaan; |
| 4. |
Memilih dan menetapkan Ketua Umum IAP |
| 5. |
Menyempurnakan susunan Dewan Kehormatan; |
| 6. |
Memilih Ketua Majelis Kode Etik; |
| 7. |
Memilih Badan Sertifikasi Perencanaan. |
|
Pasal 17
|
| 1. |
Kongres Wilayah adalah pemegang kekuasaan
tertinggi organisasi di cabang yang bersangkutan. |
| 2. |
Kongres Wilayah diselenggarakan satu kali dalam
tiga tahun dan selambat –lambatnya satu bulan
sebelum Kongres Nasional. |
| 3. |
Keputusan Kongres Wilayah ditetapkan secara musyawarah
untuk mencapai mufakat dan apabila tidak tercapai
mufakat diadakan pemungutan suara. |
|
Pasal 18
|
Kongres Wilayah mempunyai tugas dan wewenang : |
| 1. |
Menilai, mensahkan atau menolak laporan
pertanggungjawaban dan keuangan Pengurus Daerah; |
| 2. |
Memilih dan menetapkan Ketua Pengurus Daerah; |
| 3. |
Menetapkan program kerja Pengurus Daerah yang
bersangkutan sebagai penjabaran program kerja Pengurus
Nasional; |
| 4. |
Menghimpun aspirasi, usulan dan masukan dari Pengurus
Daerah IAP untuk Kongres Nasional. |
|
Pasal 19
|
| 1. |
Rapat Pleno Pengurus adalah forum
koordinasi dan konsultasi antara unsur pimpinan
Pengurus Nasional dengan sebanyak-banyaknya tiga
orang wakil dari setiap Pengurus Daerah dan dapat
mengikutsertakan wakil dari Dewan Kehormatan, Majelis
Kode Etik dan Badan Sertifikasi Perencana; serta
dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. |
| 2. |
Rapat Pengurus Nasional maupun Daerah diatur oleh
masing-masing pengurus pada tingkat dan ruang lingkup
yang bersangkutan. |
|
BAB
VII
KEUANGAN
|
Pasal
20
|
Keuangan IAP diperoleh dari
: |
| 1. |
Iuran anggota dan biaya sertifikasi; |
| 2. |
Sumbangan yang sah dan tidak mengikat; |
| 3. |
Hasil usaha dan pendapatan lain yang sah serta
tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. |
|
Pasal
21
|
Keuangan IAP digunakan untuk
menjalankan fungsi dan tugas IAP |
BAB
VIII
IKATAN HUKUM
|
Pasal
22
|
Sepanjang tidak bertentangan
dengan Anggaran Dasar maka Ketua Umum Pengurus Nasional
atau sekretaris Jenderal atas kuasa Ketua Umum dapat bertindak
atas nama IAP dan/atau mengadakan keterikatan hukum dengan
pihak ketiga. |
BAB
IX
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
|
Pasal
23
|
Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan dalam Kongres
Nasional yang disetujui oleh sekurang-kurangnya 1/2n+1
dari jumlah peserta yang hadir. |
BAB
X
PEMBUBARAN
|
Pasal
24
|
Pembubaran IAP hanya dapat
dilakukan pada Kongres Istimewa. |
BAB
XI
PENUTUP
|
Pasal
25
|
| 1. |
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran
Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. |
| 2. |
Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. |
|
|
Ditetapkan
di |
: |
Jakarta |
Pada tanggal |
: |
14 Maret 2004 |
|
SIDANG PLENO
KONGRES NASIONAL VII
IKATAN AHLI PERENCANAAN INDONESIA
|